Monday, June 15, 2009

Bal-balan Lapangan Cilik tur Iyup

Tuesday, January 27, 2009

Forbidden but Forgotten (Emutten njur Cokotten)



video

tafsirkan saja sendiri...

Saturday, October 4, 2008

Easter Eggs di Yamaha Jupiter-Z

Monday, June 23, 2008

Komunikasi Ganjil Perokok dan tidak Perokok


Saya pernah menjadi seorang perokok. Dari perokok berat dalam artian sehari habis tiga bungkus, juga dalam artian perokok berat yang selalu memberatkan teman karena lebih sering minta. Pernah pula menjadi perokok pasif yang berarti aktif merokok namun pasif membeli. Jika dihitung, saya merokok dari tahun 1991 dan berhenti tahun 2005. Jadi sekitar 14 tahun saya menjadi perokok.

Kini saya bukan perokok. Dan bagi anda yang tidak mengalami fase dari perokok ke tidak perokok, baik yang memang tidak pernah menjadi perokok maupun yang masih perokok dan sepertinya tidak akan menjadi tidak perokok, saya beritahu rasanya berhenti merokok: "rasanya aneh".

Aneh karena terjadi transisi mengejutkan: benci jadi cinta, cinta jadi benci. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan. Disukai jadi dijauhi dan seterusnya dan seterusnya. Sesuatu yang dulu anda tertawakan kini anda lakukan dan seterusnya dan seterusnya.

Sabtu dan Minggu kemarin (21/22 juni 2008) saya kedatangan banyak tamu karena sedang ada acara keluarga. Saya bukan termasuk orang yang sering menerima tamu sehingga hal tersebut merupakan pengalaman luar biasa bagi saya.

Saya menemukan sesuatu di akhir minggu kemarin, khususnya ketika menghadapi tamu perokok. Ada kecamuk di pikiran dan hati saya. Saya pernah perokok, dan sekarang tidak perokok, menghadapi tamu perokok. Seperti menghadapi diri sendiri empat tahun yang lalu.

Ada semacam komunikasi ganjil dengan kehadiran rokok di ruang tamu saya, dan saya menyimpulkannya sebagai berikut:

1. Rasa bersalah hanya milik orang tidak perokok
Sangat jelas.

2. Tuntutan untuk merokok membuat perokok tidak peka
Saya melihat tamu perokok mengambil rokok dari bungkusannya, menyalakan korek, menyulutnya, dan mengibaskan koreknya agar mati sampai meniupkan asap pertamanya. Reaksi berikutnya dari tamu adalah mencari adakah sesuatu untuk membuang bekas korek api itu di atas meja, di bawah meja, dan mencari sekeliling ruang tamu. Saya peka sekali bahwa sesuatu itu adalah asbak. Saya juga ingin tamu saya peka, dengan saya tidak berbuat sesuatu berarti saya tidak ingin ada asap rokok di rumah saya. Namun tamu saya keluar ruang tamu untuk membuang korek tersebut secara acak keluar. Setiap satu menit, tamu saya keluar menjentikkan abu rokok (lagi-lagi) secara acak. Setelah batangnya habis terbakar ada beberapa kemungkinan, mematikan rokok di ujung pintu, membuangnya keluar (sampai di jalanan) atau menuju tempat sampah di luar dan menghabisinya di situ.

3. Pertanyaan aneh dari dalam hati Tuan Rumah
Saya menjadi ragu dan muncul pertanyaan aneh di hati saya:
  • Tamu saya ini menjalin silaturahim atau silaturokok?
  • Tamu saya ini berniat mau bertamu atau hanya pindah tempat merokok?
  • Sebenarnya mana yang perlu: tuan rumah tidak perokok menghormati tamu perokok dengan membiarkannya merokok di ruang tamunya, ataukah tamu perokok menghormati tuan rumah yang tidak perokok dengan tidak merokok.
4. Rahasia bagi Perokok yang tidak diungkapkan di buku manapun: Tidak Perokok hanya benci pada asap rokok, bukan pada rokoknya, bukan pula pada perokoknya.
Saya perlu menyampaikan hal ini, agar tidak terjadi salah paham dengan tulisan ini (ingat, rasa bersalah adalah milik Tidak Perokok).

5. Cukuplah asap di jalanan saja, tak perlu merambah rumah
Sangat jelas

Demikian, penulis sangat menyadari bahwa tulisan ini sangat jauh dari sempurna.
Akhirnya, kritik yang membangun serta sumbang saran sangat diharapkan dari anda, pembaca budiman.

Sukses bagi kita semua,
ikhlas dari anda,
halal bagi kami,
kita untung bangsa untung,
kita rugi, bangsa tetap untung
karena jika kita untung, namun bangsa rugi
itu indikasi terjadi korupsi.

Tangerang, 24 Juni 2008

Tuesday, May 13, 2008

Hukum Keseimbangan (The Law of Balance)